header marita’s palace

Cara Terbaik Tuhan


Dalam kurun dua tahun terakhir aku sudah merasakan tiga kali kehilangan dengan cara dan rasa yang berbeda. Kubolak-balik, ku coba pahami, resapi bahkan hingga ku analisa, tetap saja semua jawaban kembali pada kata RAHASIA TUHAN.

Yangti Fatonah

Pukul tiga pagi HPku berdering, dan dari kejauhan aku mendengar suara bulikku mengabarkan bahwa Eyang putri tercintaku telah meninggal dunia. Luluh lantak rasanya kehilangan eyang yang buatku beliau bukan hanya eyang namun juga ibu dan sahabat terbaikku. Namun saat itu sesungguhnya Tuhan telah dari jauh-jauh hari mempersiapkan kehilangan ini. Eyang putri meninggal setelah sempat sakit tak sadarkan diri hingga dua bulan lamanya. Dengan keadaan tersebut, sepertinya ikhlas menjadi lebih mudah. Menyadari bahwa ini ialah jalan terbaik untuk beliau tidaklah melalui proses yang panjang. Meski hingga kini kehilangan akan sosoknya, juga rindu akan nasihatnya  masih saja membayangi. Sekarang ini kemudian aku sadari ternyata melepas orang tercinta yang memang sudah dalam keadaan sepuh dan sakit menjadi hal yang mudah. Yang membuat sedih karena aku tak sempat menemaninya di detik-detik terakhir, hanya pada tanggal 31 sore aku sempat tidur sore di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Dan itu kenangan terakhirku bersamanya.


Bapak

50 Hari setelah kepergian Eyang putri, aku harus melepas kepulangan bapak ke Rahmatullah. Cukup mengejutkan kepergiannya kala itu. Bapakku mempunyai dua orang istri, setelah melepas kepergian Yangti, bapak sempat pulang ke rumah istri mudanya hingga tanggal 16 Maret tepat pada hari kelahiranku bapak diboyong pulang ke rumah ibu oleh istri mudanya dalam keadaan sakit. Cukup besar tekanan pada waktu itu, aku baru saja menjalani kuretaseku yang kedua, dan keadaan ibu yang juga dalam sakit stroke membuatku bertanya-tanya apa aku sanggup merawat dua orang sakit sekaligus, sedang saat itu aku masih full  bekerja. Kujalani dengan sedikit amarah pada istri muda bapak karena lepas tanggung jawab merawat bapak dengan alasan dia juga harus merawat tiga anak kecil dan ibunya yang juga sakit. Amarah karena seakan habis manis sepah dibuang. Dan sebagainya. Hingga Minggu sore tanggal 20, tanggal 20, setelah aku memandikan bapak, bapak tertidur sangat pulas setelah hampir dua hari beliau berceracau tak jelas. Saat itu aku sempat curiga karena bapak tidur sangat pulas, sempat kugoyang tubuhnya namun ditegur ibu takut mengganggu tidurnya, kata ibu "ben istirahat, mumpung isa bobo, saake." Karena badan yang letih aku pun segera menutup hariku dan ikut tertidur pulas. Paginya aku bangun dengan tiba-tiba teringat bapak, dan ketika melihat cara tidur beliau yang tetap sama dengan semalam, seketika itu pula aku reflek memanggil suamiku dan memintanya mengecek kondisi bapak. Dan.. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kaget. Cepat sekali. Sedih. Ternyata Tuhan melihat kemampuanku untuk ikhlas merawat dua orang sakit tidaklah sempurna, maka inilah cara terbaik Tuhan. Mengapa bapak yang diambil dan bukan ibu yang notabene sudah sakit puluhan tahun? Itu rahasiaNYA.. atau kalau menurutku, karena aku masih membutuhkan ibu dan aku lebih siap melepas bapak yang memang telah terlepas dari kehidupanku pelan-pelan. Dari tiga kehilanganku dalam kurun dua tahun terakhir, kehilangan bapak adalah hal yang paling mudah untuk kuterima. Setidaknya keinginanku untuk melihat bapak pulang ke rumah ibu telah terpenuhi.

8 Februari 2013
Foto Almh. Adik yang Diambil Semalam Sebelum Meninggal

Bagai petir di siang bolong ketika guru sekolah adikku mengabariku lewat telepon, "dikuatkan ya mbak, sampaikan juga pada ibu, adiknya sudah meninggal." Kakiku lemas, nyawaku seakan ikut dicabut, adikku satu-satunya yang baru satu jam lalu kulihat keberangkatannya ke sekolah, sudah pergi menghadap Illahi. Saat itu yang berputar-putar di otakku, aku  harus kuat karena aku tak boleh pingsan saat menggendong anakku, aku harus kuat untuk memberi tahu ibu. Tapi mampet. Kakiku ndredeg, badanku dingin, bingung dan sesal bercampur baur. Ndilalahnya sekelilingku sedang sepi, biasanya ibu-ibu lewat atau sekedar ngrumpi, tak kulihat sama sekali mereka. Beruntung sesaat setelah itu ada seorang tetangga keluar dari rumahnya dan kebetulan aku dekat dengan mereka. Aku segera nyelonong masuk ke rumahnya, dan menceritakan masalahku. Tetanggaku justru ikut kaget dan bingung. Alhamdulillah, tetanggaku yang ustadzah tiba dan membantuku menyampaikan pada ibu. Dan tangisan pecah ruah membahana.

Semalam sebelum kepergiannya, adikku masih minta difoto untuk daftar SNMPTN. Dia bersemangat sekali. Dia ingin sekali ambil jurusan psikologi, ilmu komunikasi atau sastra perancis. Meski ibu dan aku selalu bilang agar dia kerja dulu selama setahun untuk mengumpulkan biaya kuliah, tapi dia tetap dengan semangat 45 nya ingin kuliah selepas lulus SMA. Melihat semangatnya siapa yang mampu memadamkannya. Ibu dan aku hanya mampu berpasrah pada yang punya hidup, bila memang ada rezekinya, insya Alloh bisa nguliahkan adik. Malam itu juga masih kuingat tawanya yang lebar dan cerianya dia saat ifa, anakku, memamerkan langkah-langkah kecil padanya. Adikku memang sudah menunggu detik-detik Ifa bisa berjalan karena dia ingin saat dia pulang sekolah Ifa bisa menyambutnya sambil berlari ke arahnya.

Pagi hari, ada yang tidak biasa. Adikku kalau mandi biasanya sangat lama, bahkan bisa satu jam lamanya. Entah kenapa pagi itu hanya lima menit saja. Ibu dan aku bahkan sempat saling berpandangan,  beneran mandi gak ya. Dia tidak mau makan nasi, padahal malamnya ia pun sudah tidak mau makan nasi, hanya minum energen, itu pun hanya habis setengah gelas. Sebelum berangkat ia sempat duduk di tepi ranjang ibu, sambil terbatuk batuk, ibu memberinya uang sambil berpesan agar membeli obat batuk sepulang sekolah. Saat itu ia menatap ibu dengan diam, seakan ingin berkata suatu hal namun tak tersampaikan. Karena jarak sekolah yang lumayan jauh, ibu segera mengingatkan untuk berangkat agar tidak telat. Lagi-lagi dia hanya diam. Diambilnya tangan ibu dan diciumnya lalu hanya punggungnya yang kemudian kulihat. Siapa yang sangka itu terakhir kali kami jumpa dengannya.

Adik memang mengidap penyakit jantung bocor bawaan sejak ia lahir. Dulu waktu bayi hingga usianya tiga tahun setiap bulan ia harus rawat jalan di RSUP Kariadi. Seharusnya ia melakukan operasi untuk menyempurnakan kesehatannya. Namun karena biaya dan hal-hal lainnya, niat itu diurungkan hingga ia hampir 18 tahun ini. Kadang ibu sempat bertanya, apa merasa nyeri? Ia jawab "ya, kadang-kadang." Sempat juga ibu bercanda, "didaftarin di tali kasih ya biar bisa operasi gratis." Ia pun dengan tegas menjawab, "emoh, dioperasi rak dioperasi ya mengko tetep mati. Nek wis wayahe mati yo mati."'

Penyakitnya tak pernah anfal selama ini, hanya memang daya tahan tubuhnya berbeda dengan kebanyakan anak. Dia tidak boleh capek dan makan sembarangan. Dan ini yang sering dia langgar. Dia suka basket dan suka sekali makan junk food. Melarang anak ABG jelas hal yang sulit. Penyakit terparahnya adalah typus, selain itu dia memang setiap bulan pasti panas, dan batuk pilek. Hal itu sudah makanan biasa untuknya. Kami pun juga sudah terbiasa hingga kami tak bersiap-siap dan lupa bahwa ada seorang dokter pernah berkata, "sekali-kali cek kesehatan jantungnya, takutnya sekalinya anfal, efeknya akan luar biasa.

Ketika ia berangkat pagi itu, ternyata ia dioper di depan RSUD kota Semarang, dari situ ia berjalan kaki hingga SPBU Ketileng dalam kondisi belum makan nasi sejak malam dan batuk. Entah saat itu mungkin dia sudah merasakan nyeri atau sesak nafas. Sesampainya di SPBU, ia akhirnya mendapat angkot dan segera naik. Beruntung ada adik kelasnya di angkot itu. Sampai di daerah lamper, adikku terjatuh di pangkuan adik kelasnya itu dan tak sadarkan diri. Panik. Sopir angkuot pun segera mengantarkannya hingga gerbang sekolah. Pak Satpam sekolah mengangkat tubuh adik dalam kondisi sudah basah kuyup celananya. Sudah meninggal di perjalanan? Wallahualam. Oleh pihak sekolah dibawa ke Roemani dan dokter menyatakan dia sudah berada di tempat terbaiknya. 

Hingga detik ini aku masih mempertanyakan cara terbaik Tuhan yang satu ini? Kenapa harus adikku? Ia bahkan belum sempat merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, betapa dari kecil dia sering sakit, lalu harus menerima keadaan ibu yang sakit hingga tak sempurna mengasuhnya, bapak menikah lagi dan menghadapi keegoisanku yang kadang melupakan keinginannya untuk ditemani. 

Bila ada yang paling menyesali kepergiannya, itu aku, karena aku telah gagal menjadi mbak yang baik untuknya.. karena aku belum bisa memberikan apa yang ia inginkan, karena aku sering marah-marah padanya bila ia melakukan hal yang tidak sesuai dengan inginku, karena aku seringkali menyakitinya karena telah meremehkan segala kemampuannya. Sedang dia tak pernah dendam, dan dalam diam dia buktikan bahwa ia bisa melakukan apa yang aku lakukan dengan segala keterbatasan yang ia punya.

Entah kenapa Tuhan memutuskan ini sebagai cara terbaik  untuknya, untuk kami..sedang dia sedang berusaha meraih mimpi.. atau memang ini jawaban untuk kami sehingga tak perlu lagi kami memikirkan bagaimana menguliahkannnya, bagaimana ia menghadapi UAN sedang ia seringkali panas saat ujian tiba, bagaimana masa depannya--akankah ada pria yang tulus menerima keadaanya. Dan memang inilah rahasia Tuhan. Yang harus kuyakini sekarang ini cara terbaik Tuhan yang kesekian dan aku harus pasrah ikhlas menerima, mencari tahu hikmah di balik segala peristiwa. Rest in Peace dik Tyas sayang...

#dan Tuhan selalu punya cara terbaik untuk membuat kita belajar; IA BISA MENGAMBIL KITA KAPANPUN DENGAN CARA APAPUN.. SUDAHKAH KITA SIAPKAN BEKAL KITA????

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com